Manusia diciptakan dan diurus oleh Allah SWT. Tugas kita di dunia ini adalah menjadi hamba Allah SWT. Mematuhi apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah SWT. Perkara rejeki adalah mutlak dalam genggaman Allah SWT. Kalau kita patuh kepada Allah dan yakin dengan kekuasaan Allah, Sang Pemberi rejeki, pasti akan menjamin segala kebutuhan rejekinya.
"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (QS At-Thalaq : 2-3)
Kita bekerja bukan untuk mengejar uang, tapi merupakan amal shaleh dalam menjemput rejeki atau nafkah kita. Yang dicari adalah keberkahan dan ridho Allah SWT. Orang yang mencari ridho Allah tidak akan ragu kepada Allah SWT sebagai pembagi rejeki, pasti kita akan bertemu dengan rejek kita, sehingga tidak akan mau berbuat haram. Kalau seseorang tidak mencari ridho Allah SWT, maka ia bisa saja menghalalkan berbagai cara dalam mencari uang.
Contoh, sebagai pekerja kantor, ketika gaji sudah diterima, ketidakcukupan untuk membeli sesuatu, tidak seharusnya membuat kita sedih. Tetapi akan sedih ketika gaji yang kita terima tidak berkah, sehingga gaji itu hanya diterima dan habis tidak karuan. Mari kita bersyukur bahwa kita masih menerima gaji, niat ibadah ketika bekerja juga rejeki, cukup untuk nafkah keluarga juga rejeki, gaji bisa digunakan untuk sedekah juga rejeki, gaji digunakan untuk makan juga rejeki. Kemudahan kita dalam menjalankan ibadah merupakan rejeki terbesar kita. Itulah yang harus kita syukuri. Tidak sedikit orang yang sengsara bukan karena kurang karunia, akan tetapi karena kurangnya bersyukur.
*sebagian isi diambil dari http://ramadan.detik.com/read/2012/08/07/070832/1984785/1422/rahasia-menjalani-hidup