Sepasang suami istri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anaknya untuk diasuh oleh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia 3,5 tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya ke tempat kerja menggunakan motor karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit,
“Kerjaan siapa ini !!!”
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan
“Saya tidak tahu..tuan.”
“Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata,
“Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kaaan…!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya.
“Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
“Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas.
“Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.
“Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap”. kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.
“Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.
“Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.
CATATAN: Buat anda yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua. Ingatlah….semarah apapun anda, janganlah bertindak berlebihan. Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita terutama pada anak2 yg masih kecil karena mereka masih belum tau dan belum mengerti apa2.
dan ingatlah, anak adalah anugrah dan amanah yang dititipkan oleh TUHAN untuk kita.
referensi : mailist parakontel
May 16, 2012
May 15, 2012
Tiket pernikahan sudah siaaaaap
Alhamdulillah.. akhirnya tiket perjalanan untuk acara nikah sudah terbeli semua. Semoga lancar, aman, dan selamat sampai tujuan.. amiin.. amiin.. Yaa Rabbal 'alamiin..

Terima kasih buat koko dan eltisa sudah bersedia dipinjam kartu kreditnya, karena pembelian dg kartu kredit BNI untuk tiket sriwijaya dapat harga special “buy 1 get 2“
Terima kasih buat koko dan eltisa sudah bersedia dipinjam kartu kreditnya, karena pembelian dg kartu kredit BNI untuk tiket sriwijaya dapat harga special “buy 1 get 2“
Betapa Pemurahnya Allah
Semoga bisa mengambil hikmah dari kisah ini :
copas dari republika
Tidak pernah terpikir olehku untuk bisa berhaji di waktu masih muda, karena secara finansial butuh waktu lama untuk bisa mengumpulkan uang Rp 65.500.000 sebagai ongkos naik haji bersama istriku. Alhamdulillah, di tahun 2008 kemarin, kami melaksanakan rukun Islam kelima ini.
Awal mulanya waktu itu tahun 2006 setelah selesai sholat subuh, aku hidupkan TV untuk menunggu pagi. Berita pagi di salah satu stasiun TV waktu itu menayangkan berita tentang haji, di mana waktu itu disiarkan jamaah haji sedang bergerak menuju Arafah untuk wukuf. Kalau tidak salah saat itu adalah haji akbar.
Tidak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba tubuhku bergetar, merinding, air mataku mengucur deras, menangis sejadi-jadinya, seketika itu aku bersujud kepada Allah SWT, kusampaikan keinginanku yang sangat mendadak itu untuk dapat ke Baitullah.
Tahun 2006, aku bertekad bulat membuka tabungan haji bersama istriku meski dengan setoran awal minimum. Aku hanya pasrah kepada Allah kapan aku bisa ke Baitulloh karena keterbatasan finansial. Tanpa disangka, rezeki datang dengan deras sehingga akhirnya aku bisa berangkat di tahun 2008 bersama istriku… Alhamdulillah ya Allah.
Mendekati waktu berangkat, hati ini campur aduk rasanya antara bahagia akan ke Baitulloh dan sedih karena meninggalkan anakku yang wkt itu berumur 3,5 tahun, sedang lucu-lucunya. Istriku tidak kuasa menahan air matanya, sedangkan aku berusaha tabah karena ini adalah perintah Allah.
Menangis di makam Rasullulah
Sampai di Jeddah, kami menuju Madinah dan tiba di maktab jam 21.30 malam. Subuh kami mulai melaksanakan arba’in. Selesai sholat subuh pertama kali di Masjid Nabawi saya menuju Roudhoh melalui pintu Babussalam.
Sampai di depan makam Rasulullah, aku berhenti dan tak kuasa menahan tangis. Betapa bahagianya aku bisa melihat makam manusia termulia di muka bumi yang setiap hari selalu aku sebut dalam sholat maupun sholawat. Tidak pun bisa bertemu langsung, melihat makamnya saja sudah sangat bahagia dan rindu.
Tangis tak kuasa aku hentikan, betapa Allah Maha Pemurah. Bagaimana tidak, aku yang hanya orang biasa tanpa keistimewaan apa-apa diberi kesempatan beribadah di tempat mulia tersebut. Kurang lebih setengah jam aku terhanyut dalam tangis yang akhirnya aku sadar bahwa aku berada di tengah berjubel-jubel orang. Akhirnya aku terseret arus keluar dari Babussalam. Sebuah kepuasan batin yang tiada tara, sungguh indah, sungguh lembut belaian Allah Sang Maha Pencipta.
Ibadah wukuf di Arafah
Peristiwa yang sungguh tidak dapat aku lupakan sampai sekarang adalah waktu melaksanakan ibadah wukuf di Arafah. Malam menjelang berangkat ke Arafah kami bersama jamaah serombongan saling bermaafan menuntaskan urusan antarsesama manusia. Suasana haru dipenuhi tangis karena seakan-akan kami akan dihisab esok harinya, berhadapan lamngsung dengan Sang Pencipta.
Sungguh hatiku ciut saat itu, tapi rasa bahagia lebih besar karena esok adalah wukuf, hari yang kutunggu-tunggu. Semalam di Arafah aku tak mampu memejamkan mata barang sedetik pun. Bukan karena cuaca dingin waktu itu, tapi karena hatiku bercampur aduk rasanya. Tidak kurasakan lelah raga dan mataku, hingga akhirnya waktu wukuf pun tiba.
Masih teringat betul waktu itu sambil mendengarkan khotbah wukuf aku bertasbih, terus.. terus.. sampai kurang lebih 15 menit aku lihat di jam tanganku, aku terus bertasbih. Dalam bertasbih aku menangis terisak-isak terbayang dosa-dosaku. Aku terhanyut dalam tangisan dan aku merasakan udara menjadi dingin, langit teduh, suara tasbih menggema, air mataku tak kuasa kuhentikan.
Udara yang dingin, langit yang teduh menjadikan aku semakin terhanyut dalam tangis. Tak terasa terdengar adzan ashar, kuhentikan tasbih, kurasakan udara kembali panas seperti semula sebelum wukuf. Aku hanya tersadar dan mampu mendengar khotbah wukuf hanya 15 menit pertama, setelahnya aku terhanyut dalam tangis dan tasbih yang menggema diiringi udara dingin sejuk yang berhembus
Sampai dengan sekarang, bila teringat akan hal tersebut, terkadang aku masih menitikkan air mata. Betapa pemurahnya Allah, betapa pemaafnya Allah kepada hamba-hambanya seperti diriku yang hina.
Syaiful Anwar
Jamaah Haji 2008
Sumber : http://www.jurnalhaji.com/category/pengalaman-umrah-dan-haji/page/2/
copas dari republika
Awal mulanya waktu itu tahun 2006 setelah selesai sholat subuh, aku hidupkan TV untuk menunggu pagi. Berita pagi di salah satu stasiun TV waktu itu menayangkan berita tentang haji, di mana waktu itu disiarkan jamaah haji sedang bergerak menuju Arafah untuk wukuf. Kalau tidak salah saat itu adalah haji akbar.
Tidak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba tubuhku bergetar, merinding, air mataku mengucur deras, menangis sejadi-jadinya, seketika itu aku bersujud kepada Allah SWT, kusampaikan keinginanku yang sangat mendadak itu untuk dapat ke Baitullah.
Tahun 2006, aku bertekad bulat membuka tabungan haji bersama istriku meski dengan setoran awal minimum. Aku hanya pasrah kepada Allah kapan aku bisa ke Baitulloh karena keterbatasan finansial. Tanpa disangka, rezeki datang dengan deras sehingga akhirnya aku bisa berangkat di tahun 2008 bersama istriku… Alhamdulillah ya Allah.
Mendekati waktu berangkat, hati ini campur aduk rasanya antara bahagia akan ke Baitulloh dan sedih karena meninggalkan anakku yang wkt itu berumur 3,5 tahun, sedang lucu-lucunya. Istriku tidak kuasa menahan air matanya, sedangkan aku berusaha tabah karena ini adalah perintah Allah.
Menangis di makam Rasullulah
Sampai di Jeddah, kami menuju Madinah dan tiba di maktab jam 21.30 malam. Subuh kami mulai melaksanakan arba’in. Selesai sholat subuh pertama kali di Masjid Nabawi saya menuju Roudhoh melalui pintu Babussalam.
Sampai di depan makam Rasulullah, aku berhenti dan tak kuasa menahan tangis. Betapa bahagianya aku bisa melihat makam manusia termulia di muka bumi yang setiap hari selalu aku sebut dalam sholat maupun sholawat. Tidak pun bisa bertemu langsung, melihat makamnya saja sudah sangat bahagia dan rindu.
Tangis tak kuasa aku hentikan, betapa Allah Maha Pemurah. Bagaimana tidak, aku yang hanya orang biasa tanpa keistimewaan apa-apa diberi kesempatan beribadah di tempat mulia tersebut. Kurang lebih setengah jam aku terhanyut dalam tangis yang akhirnya aku sadar bahwa aku berada di tengah berjubel-jubel orang. Akhirnya aku terseret arus keluar dari Babussalam. Sebuah kepuasan batin yang tiada tara, sungguh indah, sungguh lembut belaian Allah Sang Maha Pencipta.
Ibadah wukuf di Arafah
Peristiwa yang sungguh tidak dapat aku lupakan sampai sekarang adalah waktu melaksanakan ibadah wukuf di Arafah. Malam menjelang berangkat ke Arafah kami bersama jamaah serombongan saling bermaafan menuntaskan urusan antarsesama manusia. Suasana haru dipenuhi tangis karena seakan-akan kami akan dihisab esok harinya, berhadapan lamngsung dengan Sang Pencipta.
Sungguh hatiku ciut saat itu, tapi rasa bahagia lebih besar karena esok adalah wukuf, hari yang kutunggu-tunggu. Semalam di Arafah aku tak mampu memejamkan mata barang sedetik pun. Bukan karena cuaca dingin waktu itu, tapi karena hatiku bercampur aduk rasanya. Tidak kurasakan lelah raga dan mataku, hingga akhirnya waktu wukuf pun tiba.
Masih teringat betul waktu itu sambil mendengarkan khotbah wukuf aku bertasbih, terus.. terus.. sampai kurang lebih 15 menit aku lihat di jam tanganku, aku terus bertasbih. Dalam bertasbih aku menangis terisak-isak terbayang dosa-dosaku. Aku terhanyut dalam tangisan dan aku merasakan udara menjadi dingin, langit teduh, suara tasbih menggema, air mataku tak kuasa kuhentikan.
Udara yang dingin, langit yang teduh menjadikan aku semakin terhanyut dalam tangis. Tak terasa terdengar adzan ashar, kuhentikan tasbih, kurasakan udara kembali panas seperti semula sebelum wukuf. Aku hanya tersadar dan mampu mendengar khotbah wukuf hanya 15 menit pertama, setelahnya aku terhanyut dalam tangis dan tasbih yang menggema diiringi udara dingin sejuk yang berhembus
Sampai dengan sekarang, bila teringat akan hal tersebut, terkadang aku masih menitikkan air mata. Betapa pemurahnya Allah, betapa pemaafnya Allah kepada hamba-hambanya seperti diriku yang hina.
Syaiful Anwar
Jamaah Haji 2008
Sumber : http://www.jurnalhaji.com/category/pengalaman-umrah-dan-haji/page/2/
May 14, 2012
Amiin Ya Allah
Ya Allah Alhamdulillah dan terima kasih atas nikmat dan karunia yg telah Engkau berikan
Engkau telah memberi kami rejeki dan jodoh
Engkau telah membuat kami sempurna
Engkau telah membuat kami berpasangan
Ya Allah nanti tanggal 26 Mei 2012, kami akan melangsungkan pernikahan
kami mohon keridloanMu Ya Allah
kami mohon bimbinganMu Ya Allah
kami mohon niat, maksud dan tujuan kami, dan apa yang akan kami lakukan,
selalu Engkau Tuntun ke jalanMu, jalan yang membuat Engkau ridlo
Kami mohon ya Allah, dengan bertambahnya nikmat ini,
buatlah kami untuk selalu bersyukur
buatlah kami untuk selalu ridlo dengan segala ketetapanMu
dan buatlah kami untuk selalu mengingatMu
Ya Allah saya sayang dengan calon istriku, jodoh yang Engkau ciptakan untukku
jadikanlah rasa sayang dan cinta ini, jadi jalan menuju ridloMu
jadi jalan untuk bertambahnya amal ibadah kepadaMu
jadi jalan untuk menggapai sunnahMu
Ya Allah kami meng-amini doa NabiMu
Kabulkanlah ya Allah
"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya,
memberkati mereka berdua, meningkatkan kualitas keturunan mereka,
menjadikan pembuka pintu-pintu rahmad,
sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi umat."
Astagfirullahal Adziiim
Astagfirullahal Adziiim
Astagfirullahal Adziiim
Amiin
Engkau telah memberi kami rejeki dan jodoh
Engkau telah membuat kami sempurna
Engkau telah membuat kami berpasangan
Ya Allah nanti tanggal 26 Mei 2012, kami akan melangsungkan pernikahan
kami mohon keridloanMu Ya Allah
kami mohon bimbinganMu Ya Allah
kami mohon niat, maksud dan tujuan kami, dan apa yang akan kami lakukan,
selalu Engkau Tuntun ke jalanMu, jalan yang membuat Engkau ridlo
Kami mohon ya Allah, dengan bertambahnya nikmat ini,
buatlah kami untuk selalu bersyukur
buatlah kami untuk selalu ridlo dengan segala ketetapanMu
dan buatlah kami untuk selalu mengingatMu
Ya Allah saya sayang dengan calon istriku, jodoh yang Engkau ciptakan untukku
jadikanlah rasa sayang dan cinta ini, jadi jalan menuju ridloMu
jadi jalan untuk bertambahnya amal ibadah kepadaMu
jadi jalan untuk menggapai sunnahMu
Ya Allah kami meng-amini doa NabiMu
Kabulkanlah ya Allah
"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya,
memberkati mereka berdua, meningkatkan kualitas keturunan mereka,
menjadikan pembuka pintu-pintu rahmad,
sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi umat."
Astagfirullahal Adziiim
Astagfirullahal Adziiim
Astagfirullahal Adziiim
Amiin
cincin tunangan part 2
Dari segi pandangan hukum islam :
Hukum emas dan sutera haram, dan tidak satupun ulama mazhab yang membantahnya. Ali bin Abu Talib r.a. berkata, "Rasulullah s.a.w. mengambil sutera, beliau letakkan di sebelah kanannya, dan beliau mengambil emas kemudian diletakkan di sebelah kirinya, lantas beliau bersabda, kedua ini haram buat laki-laki dari umatku." (HR Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah), Tetapi Ibnu Majah menambah, "emas itu halal untuk wanita".
Nabi s.a.w. juga pernah melihat laki-laki memakai cincin emas di tangannya, kemudian Nabi SAW mencabut cincin itu, lantas membuangnya ke tanah, kemudian beliau bersabda, "Salah seorang diantara kamu ini sengaja mengambil bara api kemudian ia letakkan di tangannya. Setelah Rasulullah pergi, kepada laki-laki tersebut dikatakan, "Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah". Maka jawabnya, "Tidak! Demi Allah, saya tidak mengambil cincin yang telah dibuang oleh Rasulullah". (HR Muslim).
Itulah mengapa saya memilih bahan dari silver, dan semoga tidak termasuk dalam kategori menyerupai perempuan dan diperbolehkan. Sebenarnya saya sendiri masih mencari sumber tentang bagaimana hukum memakai cincin silver
sumber :http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/pojok-arifin-ilham/12/04/30/m3a69m-kami-dengar-dan-kami-taat)
Hukum emas dan sutera haram, dan tidak satupun ulama mazhab yang membantahnya. Ali bin Abu Talib r.a. berkata, "Rasulullah s.a.w. mengambil sutera, beliau letakkan di sebelah kanannya, dan beliau mengambil emas kemudian diletakkan di sebelah kirinya, lantas beliau bersabda, kedua ini haram buat laki-laki dari umatku." (HR Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah), Tetapi Ibnu Majah menambah, "emas itu halal untuk wanita".
Nabi s.a.w. juga pernah melihat laki-laki memakai cincin emas di tangannya, kemudian Nabi SAW mencabut cincin itu, lantas membuangnya ke tanah, kemudian beliau bersabda, "Salah seorang diantara kamu ini sengaja mengambil bara api kemudian ia letakkan di tangannya. Setelah Rasulullah pergi, kepada laki-laki tersebut dikatakan, "Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah". Maka jawabnya, "Tidak! Demi Allah, saya tidak mengambil cincin yang telah dibuang oleh Rasulullah". (HR Muslim).
Itulah mengapa saya memilih bahan dari silver, dan semoga tidak termasuk dalam kategori menyerupai perempuan dan diperbolehkan. Sebenarnya saya sendiri masih mencari sumber tentang bagaimana hukum memakai cincin silver
sumber :http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/pojok-arifin-ilham/12/04/30/m3a69m-kami-dengar-dan-kami-taat)
May 3, 2012
Cincin Tunangan
Browsing sana, browsing sini, Tanya mbah google tentang model cincin nikah, Tanya temen2 dimana bikin cincin nikah…
Akhirnya terpilihlah model …

Modelnya bagus, exclusive dan elegant
Kemudian kita bikin cinciiiin, jangan lupa searching2 dalam pemilihan bahan/kadar emas/silver/berlian yang bagus, termasuk dari segi pandangan agama :
1.Bahan :
EMAS
Emas (dibaca/'goold/) adalah unsur kimia kimia dengan lambang Au (bahasa Latin: aurum) dan dengan nomor bilangan atom 79. Emas memancarkan cahaya warna dan kilauan kuning cerah mengkilap secara tradisional dipertimbangkan menarik, dan tidak berkarat di udara atau air.
Industri modern, seperti ilmu kesehatan gigi dan elektronik di mana emas sering digunakan karena secara tradisional emas tidak dapat teroksidasi oleh korosi. Karena lunaknya emas murni (24 karat), emas biasanya dicampur dengan logam dasar lain untuk penggunaan barang-barang perhiasan, mengubah kekerasan, kelenturan, titik lebur, warna dan bentuk. Emas yang tercampur dengan logam lain, yang berisi dalam (%) porsen tembaga, atau (%) posen perak dan (%) porsen Palladium (Di Indonesia dikenal dengan sebutan emas putih) akan merubah karat kemurniannya, biasanya menjadi 22karat, 18 karat, 14 karat atau 10 karat.
Tembaga adalah paling umum dipakai sebagai bahancampuran logam dasar, yang mebuat warna emas menjadi kemerahan. Emas sebesar delapan belas karat (18K) akan berisi tembaga sebanyak 25%, dapat ditemukan di barang-barang perhiasan.
Ketika membeli emas jangan lupa :
1. Pastikan Kadar Kemurnian Emas, sesuai dengan Standar Internasional:
Emas 24 Karat (emas murni) berkomposisi 99.99% emas,
Emas 22 Karat berkomposisi 91.7% emas dan 8.3% campuran bahan lain (perak),
Emas 20 Karat berkomposisi 83.3% emas,
Emas 18 Karat berkomposisi 75.0% emas,
2. Simpan Bukti Pembelian dan Bukti Keaslian Emas Hal ini adalah sebagai bukti keaslian bilamana anda menjual emas kembali ke tempat Anda membelinya, karena tentu akan lebih mudah dan tidak ada banya pertanyaan seputar emasnya.
SILVER atau PERAK:
Kadar perak 925 adalah prosentase kandungan logam perak,perbandingan dari 92,5% perak murni + 7,5% tembaga dalam sebuah perak yang dibuat perhiasan. 925 adalah kadar di dalam logam perak seperti halnya dalam emas 22 K. sebagai perbandingan antara kadar perak dengan kadar emas adalah seperti ini :
Perak : emas
999 % 24 karat
925 % 22 karat
800 % 14 Karat
Jika perhiasan perak dibuat dengan kadar 999% maka perhiasan tersebut sangat lunak sehingga mudah berubah bentuk (rusak/peyok dalam istilah jawa) dan jika di bawah kadar 925% perak akan mudah teroksidasi (efek yang tampak adalah lebih cepat berwarna kusam/hitam), maka kadar 925% adalah kadar yang terbaik untuk perhiasan dari perak. kadar 925 oleh dunia dijadikan sebagai kadar standar internasional (sterling silver) dan juga disebut sebagai perak asli.
BERLIAN
Berlian sendiri merupakan batu mulia yang terbuat dari senyawa karbon dimana dalam prosesnya memakan waktu yang sangat lama mencapai 3 – 5 abad sehingga bisa dimaklumi batu mulia ini termasuk dalam kategori barang Lux bagi yang mengetahuinya.
Berlian/Diamond mempunyai tingkat kekerasannya yang sempurna yakni 10 mol, dimana kekerasan tersebut dapat memecahkan kaca, bahkan dapat mengalahkan besi atau baja sekalipun.
Ada 4 cara untuk menilai baik atau kualitas sebuah berlian yakni :
1. Carats, adalah besar kecilnya berlian dengan cara ditimbang atau di lub. Semakin berat ukurannya maka semakin mahal pula harganya. Berlian terkecil adalah 0,05 carat dimana berlian itu dapat disebut dengan berat setengah mata.
2. Clarity, adalah kejernihan. Dimana semakin berlian itu jernih tanpa ada cacat / goresan hitam maupun putih maka semakin mahal. Kejernihan berlian ditunjukan dengan 2 kode huruf tertentu seperti vvs,vs, is, i dengan diikuti angka di belakangnya seperti vvs 1 yang artinya sangat jernih, dsb.
3. Colour, adalah warna yang menunjukan variasi harga tergantung dengan kesenangan seseorang. Warna tersebut dapat dinotasikan sebagai acuan untu melihat cahaya yang akan memantulkan jika dipantulkan dengan cahaya.
4. Cutting, adalah setiap potongan ruas pada berlian akan membuat kilauan yang dihasilkan oleh batu mulia akan berbeda, contohnya seperti single cutting dimana potongan tiap ruasnya paling sedit dibandingkan dengan rose cutting / arrow cutting.
Semoga penjelasan secara sederhana ini, bisa membantu dalam memahami dan menentukan berharga atau tidaknya sebuah emas, silver dan berlian/diamond.
Bersambung...
sumber : diambil dari beberapa sumber di internet
Akhirnya terpilihlah model …
Modelnya bagus, exclusive dan elegant
Kemudian kita bikin cinciiiin, jangan lupa searching2 dalam pemilihan bahan/kadar emas/silver/berlian yang bagus, termasuk dari segi pandangan agama :
1.Bahan :
EMAS
Emas (dibaca/'goold/) adalah unsur kimia kimia dengan lambang Au (bahasa Latin: aurum) dan dengan nomor bilangan atom 79. Emas memancarkan cahaya warna dan kilauan kuning cerah mengkilap secara tradisional dipertimbangkan menarik, dan tidak berkarat di udara atau air.
Industri modern, seperti ilmu kesehatan gigi dan elektronik di mana emas sering digunakan karena secara tradisional emas tidak dapat teroksidasi oleh korosi. Karena lunaknya emas murni (24 karat), emas biasanya dicampur dengan logam dasar lain untuk penggunaan barang-barang perhiasan, mengubah kekerasan, kelenturan, titik lebur, warna dan bentuk. Emas yang tercampur dengan logam lain, yang berisi dalam (%) porsen tembaga, atau (%) posen perak dan (%) porsen Palladium (Di Indonesia dikenal dengan sebutan emas putih) akan merubah karat kemurniannya, biasanya menjadi 22karat, 18 karat, 14 karat atau 10 karat.
Tembaga adalah paling umum dipakai sebagai bahancampuran logam dasar, yang mebuat warna emas menjadi kemerahan. Emas sebesar delapan belas karat (18K) akan berisi tembaga sebanyak 25%, dapat ditemukan di barang-barang perhiasan.
Ketika membeli emas jangan lupa :
1. Pastikan Kadar Kemurnian Emas, sesuai dengan Standar Internasional:
Emas 24 Karat (emas murni) berkomposisi 99.99% emas,
Emas 22 Karat berkomposisi 91.7% emas dan 8.3% campuran bahan lain (perak),
Emas 20 Karat berkomposisi 83.3% emas,
Emas 18 Karat berkomposisi 75.0% emas,
2. Simpan Bukti Pembelian dan Bukti Keaslian Emas Hal ini adalah sebagai bukti keaslian bilamana anda menjual emas kembali ke tempat Anda membelinya, karena tentu akan lebih mudah dan tidak ada banya pertanyaan seputar emasnya.
SILVER atau PERAK:
Kadar perak 925 adalah prosentase kandungan logam perak,perbandingan dari 92,5% perak murni + 7,5% tembaga dalam sebuah perak yang dibuat perhiasan. 925 adalah kadar di dalam logam perak seperti halnya dalam emas 22 K. sebagai perbandingan antara kadar perak dengan kadar emas adalah seperti ini :
Perak : emas
999 % 24 karat
925 % 22 karat
800 % 14 Karat
Jika perhiasan perak dibuat dengan kadar 999% maka perhiasan tersebut sangat lunak sehingga mudah berubah bentuk (rusak/peyok dalam istilah jawa) dan jika di bawah kadar 925% perak akan mudah teroksidasi (efek yang tampak adalah lebih cepat berwarna kusam/hitam), maka kadar 925% adalah kadar yang terbaik untuk perhiasan dari perak. kadar 925 oleh dunia dijadikan sebagai kadar standar internasional (sterling silver) dan juga disebut sebagai perak asli.
BERLIAN
Berlian sendiri merupakan batu mulia yang terbuat dari senyawa karbon dimana dalam prosesnya memakan waktu yang sangat lama mencapai 3 – 5 abad sehingga bisa dimaklumi batu mulia ini termasuk dalam kategori barang Lux bagi yang mengetahuinya.
Berlian/Diamond mempunyai tingkat kekerasannya yang sempurna yakni 10 mol, dimana kekerasan tersebut dapat memecahkan kaca, bahkan dapat mengalahkan besi atau baja sekalipun.
Ada 4 cara untuk menilai baik atau kualitas sebuah berlian yakni :
1. Carats, adalah besar kecilnya berlian dengan cara ditimbang atau di lub. Semakin berat ukurannya maka semakin mahal pula harganya. Berlian terkecil adalah 0,05 carat dimana berlian itu dapat disebut dengan berat setengah mata.
2. Clarity, adalah kejernihan. Dimana semakin berlian itu jernih tanpa ada cacat / goresan hitam maupun putih maka semakin mahal. Kejernihan berlian ditunjukan dengan 2 kode huruf tertentu seperti vvs,vs, is, i dengan diikuti angka di belakangnya seperti vvs 1 yang artinya sangat jernih, dsb.
3. Colour, adalah warna yang menunjukan variasi harga tergantung dengan kesenangan seseorang. Warna tersebut dapat dinotasikan sebagai acuan untu melihat cahaya yang akan memantulkan jika dipantulkan dengan cahaya.
4. Cutting, adalah setiap potongan ruas pada berlian akan membuat kilauan yang dihasilkan oleh batu mulia akan berbeda, contohnya seperti single cutting dimana potongan tiap ruasnya paling sedit dibandingkan dengan rose cutting / arrow cutting.
Semoga penjelasan secara sederhana ini, bisa membantu dalam memahami dan menentukan berharga atau tidaknya sebuah emas, silver dan berlian/diamond.
Bersambung...
sumber : diambil dari beberapa sumber di internet
Yakin episode 5
Alhamdulillah sudah menjadi jadwal rutin, selepas sholat shubuh di masjid kemudian ngaji sama Ust. Yusuf Mansur di salah satu tv nasional.
Pada episode kali ini bercerita tentang keyakinan bahwa disetiap kondisi dan keadaan apapun pasti ada sebuah pilihan yang terbaik untuk kita.
Dikisahkan ada keluarga yang akan melahirkan, tetapi vonis dokter menyatakan hanya satu diantara bayi dan ibu yang akan selamat. Tetapi dengan kehendak Allah pasti ada pilihan yang ketiga yaitu ibu dan bayi selamat. Tinggal kita yakinnya yang mana.
Yakin inilah yang menjadi kuajiban kita untuk meyakininya. “Tidak ada daya dan upaya apapun jika Allah sudah berkehendak”. Yakin bukan berarti dilalui dengan pasrah, tetapi harus dilalui dengan jalan Allah : sholat wajib berjamaah, sholat sunnah rowatib, sholat tahajud, sholat dluha, sedekah, dan amalan-amalan lain yang telah di ajarakan oleh Rosulullah dan sempurnakan ikhtiar.
Yakin bukan juga memaksakan bahwa hasilnya harus seperti ini atau itu. Tetapi kerelaan kita, keridloan kita, keikhlasan kita untuk menerima dan melaksanakan yang menjadi Ridlo Allah, Itulah yakin kita.Itulah yang terbaik buat kita.
Ayo kita mulai dari diri kita untuk meyakini bahwa inilah yang terbaik buat kita, yang menjadi ridlo Allah adalah ridlo kita, yang kita harapakan semoga diridloi Allah.. Amiin..
Ya Allah berilah kami kekuatan dan kemampuan untuk menjalankan segala yang menjadi keridloanMu.. Amiin..
Pada episode kali ini bercerita tentang keyakinan bahwa disetiap kondisi dan keadaan apapun pasti ada sebuah pilihan yang terbaik untuk kita.
Dikisahkan ada keluarga yang akan melahirkan, tetapi vonis dokter menyatakan hanya satu diantara bayi dan ibu yang akan selamat. Tetapi dengan kehendak Allah pasti ada pilihan yang ketiga yaitu ibu dan bayi selamat. Tinggal kita yakinnya yang mana.
Yakin inilah yang menjadi kuajiban kita untuk meyakininya. “Tidak ada daya dan upaya apapun jika Allah sudah berkehendak”. Yakin bukan berarti dilalui dengan pasrah, tetapi harus dilalui dengan jalan Allah : sholat wajib berjamaah, sholat sunnah rowatib, sholat tahajud, sholat dluha, sedekah, dan amalan-amalan lain yang telah di ajarakan oleh Rosulullah dan sempurnakan ikhtiar.
Yakin bukan juga memaksakan bahwa hasilnya harus seperti ini atau itu. Tetapi kerelaan kita, keridloan kita, keikhlasan kita untuk menerima dan melaksanakan yang menjadi Ridlo Allah, Itulah yakin kita.Itulah yang terbaik buat kita.
Ayo kita mulai dari diri kita untuk meyakini bahwa inilah yang terbaik buat kita, yang menjadi ridlo Allah adalah ridlo kita, yang kita harapakan semoga diridloi Allah.. Amiin..
Ya Allah berilah kami kekuatan dan kemampuan untuk menjalankan segala yang menjadi keridloanMu.. Amiin..
Dzikir ba'da sholat
xأَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِى لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِِ 3
(Aku mohon ampun kepada Allah,Allah yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan kecuali Allah, Dzat yang Maha Hidup dan terus Hidup, dan kami mohon ampun kepadaMu ya Allah)
xلاَ اِلهَ اِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر. 3
(Tidak ada Tuhan selain Allah, dzat yang Maha Esa, tidak ada sekutu untukNya (tidak ada yang menyamai), dzat yang mempunyai kerajaan dan semua pujian. Dzat yang menghidupkan dan mematikan, dan berkuasa atas segala sesuatu)
xأَللّهُمَّ أَجِرْنِيْ مِنَ النَّارِ 3
(Ya Allah lindungilah kami dari api neraka).
أَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُالسَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ
xتَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ. 1
(Ya Allah Engkaulah As-Salam (keselamatan, keberkahan, kemulian, ketenangan) dan keselamatan dari-Mu dan keselamatan kembali padaMu, berilah keselamatan dalam hidup kami, Dan masukkan kami ke dalam surga Darussalam, Maha Suci Engkau ya Rabb yang Maha Luhur, yang Maha agung dan Maha Mulia).
أَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَمُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
(Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu).
Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik1x
(Ya Allah anugerahkanlah pertolongan kepada kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu)


xاِلهِ يَا رَبِّيْ اَنْتَ مَوْلنَا1
سُبْحَنَ اللّه.×33
(Allah Maha suci)
أَلْحَمْدُ لِلّهِ.×33
(Segala puji hanya bagi Allah)
أَللّهُ أَكْبَرُ×33
(Allah Maha besar)
أَللّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَنَ اللّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَه‘ لاَشَرِيْكَ لَه‘، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شُيْئٍ قَدِيْرٌ.
xلآاِلهَ اِلاَّ اللّه 33
(Aku mohon ampun kepada Allah,Allah yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan kecuali Allah, Dzat yang Maha Hidup dan terus Hidup, dan kami mohon ampun kepadaMu ya Allah)
xلاَ اِلهَ اِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر. 3
(Tidak ada Tuhan selain Allah, dzat yang Maha Esa, tidak ada sekutu untukNya (tidak ada yang menyamai), dzat yang mempunyai kerajaan dan semua pujian. Dzat yang menghidupkan dan mematikan, dan berkuasa atas segala sesuatu)
xأَللّهُمَّ أَجِرْنِيْ مِنَ النَّارِ 3
(Ya Allah lindungilah kami dari api neraka).
أَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُالسَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ
xتَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ. 1
(Ya Allah Engkaulah As-Salam (keselamatan, keberkahan, kemulian, ketenangan) dan keselamatan dari-Mu dan keselamatan kembali padaMu, berilah keselamatan dalam hidup kami, Dan masukkan kami ke dalam surga Darussalam, Maha Suci Engkau ya Rabb yang Maha Luhur, yang Maha agung dan Maha Mulia).
أَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَمُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
(Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu).
Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik1x
(Ya Allah anugerahkanlah pertolongan kepada kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu)
xاِلهِ يَا رَبِّيْ اَنْتَ مَوْلنَا1
سُبْحَنَ اللّه.×33
(Allah Maha suci)
أَلْحَمْدُ لِلّهِ.×33
(Segala puji hanya bagi Allah)
أَللّهُ أَكْبَرُ×33
(Allah Maha besar)
أَللّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَنَ اللّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَه‘ لاَشَرِيْكَ لَه‘، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شُيْئٍ قَدِيْرٌ.
xلآاِلهَ اِلاَّ اللّه 33
Aku Terpaksa Menikahinya
Terkadang kita lupa bahwa keadaan yg ada sekarang adalah yang terbaik yang kita miliki : kasih sayang ibu-bapak, istri-suami, anak, makanan, dll. Dan bersyukur menjadikan keadaan itu jadi sempurna…
Jangan sampai terlambat kita menyadarinya...
-------------------------------------------------------------------------------------
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana?
Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Sumber : http://ilham.web.id/aku-terpaksa-menikahinya
Jangan sampai terlambat kita menyadarinya...
-------------------------------------------------------------------------------------
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana?
Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Sumber : http://ilham.web.id/aku-terpaksa-menikahinya
May 1, 2012
Lamaran’s Day part 2
Setelah proses lamaran diterima, tuker cincinlah kami
Kemudian dilanjut dg diskusi tentang waktu dan tempat pelaksanan, acara- acara pernikahan serta biaya yang dibutuhkan. Untuk waktu dan tempat disepakati tanggal 26 mei 2012 (lebih tepatnya mengacu ke kalender islami yakni bulan Rajab) sebagai hari nikah : akad nikah pagi, dan resepsi malam hari.
Acara yg akan dilakuin :
1. 3 minggu atau sebulan sebelum hari nikah, dilakukan acara seserahan lagi. Acara ini dimaksudkan untuk member tahu ke pemerintah setempat, ulama, dan masyarakat kalau dalam waktu dekat akan diadakan acara pernikahan. Mungkin acara ini hanya ada di Gorontalo. Berhubung dari keluarga kami tidak bisa hadir, maka diwakilkan.
Seserahana, biaya nikah semua diperlihatkan kepada para hadirin. Dan ada semacam acara saling perkenalan antar keluarga.
2. Acara kedua : Khataman alquran. Yakni pada malam hari sebelum akad nikah. Khatama Alquran disini bukan 30 juz, tetapi hanya membacakan juz 30. Mempelai berdua beserta pendamping yang akan membacakan juz 30.
3. Akad nikah pagi hari
4. Resepsi malam hari
Dengan begitu banyaknya acara, biaya jadi banyak deh.. Acara perjamuan dilaksanakan dengan nasi tumpeng dan prasmanan. Semoga menjadi amalan ibadah dan berkah.. amiin..
Kemudian dilanjut dg diskusi tentang waktu dan tempat pelaksanan, acara- acara pernikahan serta biaya yang dibutuhkan. Untuk waktu dan tempat disepakati tanggal 26 mei 2012 (lebih tepatnya mengacu ke kalender islami yakni bulan Rajab) sebagai hari nikah : akad nikah pagi, dan resepsi malam hari.
Acara yg akan dilakuin :
1. 3 minggu atau sebulan sebelum hari nikah, dilakukan acara seserahan lagi. Acara ini dimaksudkan untuk member tahu ke pemerintah setempat, ulama, dan masyarakat kalau dalam waktu dekat akan diadakan acara pernikahan. Mungkin acara ini hanya ada di Gorontalo. Berhubung dari keluarga kami tidak bisa hadir, maka diwakilkan.
Seserahana, biaya nikah semua diperlihatkan kepada para hadirin. Dan ada semacam acara saling perkenalan antar keluarga.
2. Acara kedua : Khataman alquran. Yakni pada malam hari sebelum akad nikah. Khatama Alquran disini bukan 30 juz, tetapi hanya membacakan juz 30. Mempelai berdua beserta pendamping yang akan membacakan juz 30.
3. Akad nikah pagi hari
4. Resepsi malam hari
Dengan begitu banyaknya acara, biaya jadi banyak deh.. Acara perjamuan dilaksanakan dengan nasi tumpeng dan prasmanan. Semoga menjadi amalan ibadah dan berkah.. amiin..
Lamaran's Day
18 Februari 2012, Brangkat dari bandara Juanda bersama Bapak, Ibu, dan ponakan. Alhamdulillah ada rejeki bisa berangkatin Bapak-Ibu buat acara lamaran, semoga pas acaranya nikahnya juga sama. Ga ada pesawat yg lgsg ke Gorontalo, adanya transit dulu di bandara sultan hasanuddin Makassar. Dan nyampai di bandara Jalaluddin Gorontalo sekitar jam 14:15 waktu setempat. Dijemput nya pake Bentor alias becak motor, kendaraan khas gorontalo
Yang unik dari bentor adalah modifikasi dari sepeda motor, jadi kalau bosen bisa diganti lagi rangka depannya, pake rangka asli sepeda motor. Tinggal bongkar pasang gitu…Sampai dirumah ketemu calon mertua, ngobrol-ngobrol, terus istrahat sebentar.. Ga terasa uda maghrib lanjut sholat Isya, makan malam dan acara lamaran pun tiba….
Acaranya Cuma dihadiri oleh kedua org tua kami, dan dilmulai dengan perkenalan kluarga masing2.
Dilanjutin dengan penyerahan seserahan (seperangkat alat sholat, cincin dan kalung). Sebenarnya belum tentu ditrima juga maksud lamaran kami, tapi berhubung jauh dan baru sekali ketemu, maka langsung ja minta lamaran.
Pada intinya lamaran diterima, tapi yang masih jadi perdebatan adalah masalah biaya pernikahan.
Beda adat beda acara, beda kampong beda tradisi.. itulah kenyataan yang ada dimasyarakat.
Bukan hanya calon mempelai yg mau nikah, tetapi juga melibatkan keinginan kedua orang tua. Akhirnya harus bisa menyatukan keinginan kedua orang tua dan calon mempelai.
bersambung ....
Subscribe to:
Comments (Atom)