Apr 13, 2012

Ketika Sholat Sunah Fajar Lebih Mahal daripada Dunia & Isinya


Seorang pengusaha nan shalih bernama Kajiman –bukan nama asli-, malam
itu sedang menginap di sebuah hotel berbintang lima di kawasan Simpang
Lima Semarang. Usai melakukan qiyamul-lail ia bergegas ke luar hotel
untuk mencari masjid terdekat dan shalat Shubuh berjamaah di sana. Waktu
di jam tangan Kajiman menunjukkan bahwa waktu adzan Shubuh kira-kira
setengah jam ke depan.

Begitu keluar dari lobby hotel, Kajiman pun memanggil seorang tukang becak yang sedang mangkal lalu ia naik ke atas becak.

"Mau diantar kemana, Pak?" tanya tukang becak bernama Ibnu. Begitu
ditanya, Kajiman menjawab, "Antar saya keliling kota Semarang saja,
Pak!" Ia menjawab sedemikian karena ia tahu bahwa waktu Shubuh masih
jauh tersisa.

Maka Ibnu sang tukang becak mengantarkan Kajiman berkeliling Simpang Lima sebagai pusat kota Semarang.

Kira-kira belasan menit sudah Ibnu mengayuhkan pedal becak mengantarkan
Kajiman yang hendak melihat panorama kota Semarang saat pagi menjelang.
Beberapa jalan sudah mereka susuri berdua. Lalu sayup-sayup terdengar
suara tarhim dari sebuah corong menara masjid di sana.

"Ya Arhamar Rahimiin, Irhamnaa.... Ya Arhamar Rahimiin, Irhamnaa....!"

Suara tarhim itu mengisyaratkan kepada warga kota Semarang bahwa waktu shubuh sebentar lagi akan menjelang.

Sejurus itu Ibnu berkata santun kepada penumpangnya, "Mohon maaf ya pak,
boleh tidak bapak saya pindahkan ke becak lain??" Kajiman membalas,
"Memangnya bapak mau kemana?" "Mohon maaf pak, saya mau pergi ke
masjid!" jawab Ibnu.

Terus terang Kajiman kagum atas jawaban Ibnu sang tukang becak, namun ia
ingin mencari alasan mengapa Ibnu sedemikian hebat kemauannya hingga
ingin pergi ke masjid. "Kenapa harus pergi ke masjid pak Ibnu?" tanya
Kajiman. Ibnu dengan polos menjawab, "Saya sudah lama bertekad untuk
mengumandangkan adzan di masjid agar orang-orang bangun dan melaksanakan
shalat Shubuh. Sayang khan Pak kalau kita tidak shalat Shubuh" jelas
Ibnu singkat.

Jawaban ini semakin membuat Kajiman bertambah kagum atas ketaatan Ibnu.
Namun Kajiman belum puas sehingga ia melontarkan pertanyaan yang
menggoyah keimanan Ibnu. "Pak, bagaimana kalau pak Ibnu tidak usah ke
masjid tapi pak Ibnu temani saya keliling kota dan saya akan membayar Rp
500 ribu sebagai imbalannya!"

Dengan santun Ibnu membalas tawaran itu, "Mohon maaf pak, bukannya
menolak.... namun guru saya pernah mengajarkan bahwa shalat sunnah Fajar
itu lebih mahal daripada dunia beserta isinya!"

Deggg....! dinding hati Kajiman bergemuruh mendapati jawaban hebat dari
seorang pengayuh becak seperti Ibnu. Ia begitu takjub atas ketaatan Ibnu
kepada Tuhannya. Amat jarang menurut Kajiman manusia sekarang yang
memiliki prinsip hidup seperti Ibnu.

Bahkan Kajiman pun memberikan tawaran dua kali lipat dari semula, tetap
saja Ibnu menolaknya. Kekaguman pun membawa Kajiman menyadari bahwa ada
pelajaran besar yang sedang ia dapati dari seorang guru kehidupan
bernama Ibnu pagi itu.


"Dua rakaat Fajar (qabliyah Shubuh) lebih baik daripada dunia beserta isinya." (Muhammad Saw)



Ibnu dan Kajiman pun tiba di salah satu masjid, rumah Allah. Lampu-lampu
masjid belum menyala. Mereka berdualah orang-orang pertama yang membuka
gerbang dan pintu masjid. Ibnu menyalakan lampu-lampu dan ia pun
mengumandangkan adzan saat waktu Shubuh tiba.

Dalam alunan suara merdu Ibnu mengumandangkan adzan, hati Kajiman
semakin hebat berguncang. Dia berkata kepada Tuhannya, "Ya Allah, betapa
ummat dan bangsa ini amat membutuhkan manusia-manusia hebat seperti
Ibnu... Rezekikan kepada kami para pemimpin bangsa dan hamba-hamba yang
senantiasa kuat beriman dan selalu merasa takut kepada-Mu.... sehingga
tiada lagi yang kami cari untuk hidup di dunia ini selain keridhaan dan
surga-Mu."

Shalat Shubuh pun didirikan di masjid tersebut, termasuk dalam shaf barisan hamba Allah pagi itu adalah Kajiman dan Ibnu.

Kajiman begitu mensyukuri pelajaran berharga yang Allah berikan untuknya
di pagi itu. Usai shalat, Kajiman masih melanjutkan ibadahnya dengan
dzikir dan bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Pemurah. Namun lagi-lagi
terbayang di benaknya sosok hebat Ibnu sang Tukang Becak. Entah mengapa
dirasakan oleh Kajiman bahwa Allah menginginkan dirinya membantu Ibnu
untuk hadir ke Baitullah berhaji di tahun ini. Doa di pagi itu sungguh
membuat Kajiman terasa amat dekat dengan Tuhannya. Hingga badannya
berguncang dan air mata pun mengalir deras di pipinya. Tak kuasa ia
membendung gelombang arus rahmat dari Tuhannya.

Usai puas berdoa, Kajiman pun menurunkan kedua tangannya yang tadi
terangkat. Terdengar oleh telinganya sapaan lembut pak Ibnu yang
berkata, "Mari pak kita teruskan perjalanan keliling kota Semarang....!"

Kajiman lalu menoleh ke arah sumber suara. Ia berdiri dan menghampiri
tubuh Ibnu. Ia gamit tangan Ibnu untuk berjabat lalu memeluk tubuhnya
dengan erat. Sementara Ibnu belum mengerti apa maksud perbuatan yang
dilakukan Kajiman.

Dalam pelukan itu Kajiman membisikkan kalimat ke telinga Ibnu, "Mohon
pak Ibnu tidak menolak tawaran saya kali ini. Dalam doa munajat kepada
Allah tadi saya sudah bernazar untuk memberangkatkan pak Ibnu berhaji
tahun ini ke Baitullah...., Mohon bapak jangan menolak tawaran saya ini.
Mohon jangan ditolak!!!"

Subhanallah.... bagai kilat dan guntur yang menyambar menggoncang bumi.
Betapa hati Ibnu teramat kaget mendengar penuturan Kajiman yang baru
saja dikenalnya. Kini Ibnu pun mengeratkan pelukan ke tubuh Kajiman dan
ia berkata, "Subhanallah walhamdulillah.... terima kasih ya Allah....
terima kasih pak Kajiman.....!"

Untuk kali ini, Ibnu tiada menolak tawaran Kajiman!

Labbaikallahumma Labbaik..... Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik

Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah... Aku penuhi panggilan-Mu

Haji adalah memenuhi panggilan Allah Swt sekali seumur hidup. Bagaimana
mungkin seorang manusia memenuhi panggilan Allah yang agung ini, bila
dalam sehari Allah Swt memanggilnya hingga lima kali, namun ia tiada
mengindahkan.

Ibnu sungguh pantas mendapat hadiah penghargaan dari Allah Swt..

Semoga kita bisa mengambil hikmah dan bisa menjadi lebih baik dengan kisah ini.
Ya Allah mudahkanlah kami dalam menjalankan ibadah dan ridloMu.. amiin


Referensi:
-Copas dari forum parakontel, dan sumber dari jamaahmasjid.blogspot.com
-Ilustrasi dari http://www.alaminkorea.com

Ya Allah mudahkan kami dalam menjalankan ibadah dan ridloMu

Salah satu tujuan blog ini adalah sebagai pengingat.. mengingatkan saya, mengingatkan calon istri saya (InsyaAllah smg sebentar lg menjadi jodoh yg diridloi Allah.. 26 Mei 2012), dan juga pembaca..
Semoga bisa menjalankan ibadah dg istiqomah dan ikhlas sesuai yang dicontohkan Rasulullah.. Amiin

Hadits Nabi : " Allah berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (Shalat Dhuha) niscaya pasti akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya "( HR.Hakim dan Thabrani).

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: ” Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku mengenai tiga hal :
a) agar aku berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan,
b) melakukan sholat dhuha dua raka’at dan
c) melakukan sholat witir sebelum tidur.” ( H.R. Bukhari & Muslim ).

Salah satu doa yg bisa dipanjatkan usai sholat dhuha:
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

Amiin..ya Rabbal 'Aalamiin..

Rasulullah dan Lemparan Batu

Sepeninggal Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW semakin besar. Beliau pun berniat untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Tha’if. Beliau berharap akan memperoleh dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk agama Islam. Tak lama kemudian, beliau bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau, pergi ke Tha’if.

Kabilah terbesar di Tha’if adalah Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai. Mengetahui akan hal ini, Rasulullah SAW menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara. Rasulullah SAW menyampaikan maksud kedatangan beliau dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah kepada selain Allah SWT. Namun jawaban dari mereka sungguh di luar harapan beliau.

Salah satu dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau?”
Yang lainnya berkata, “Kami hidup turun-temurun di sini. Tiada kesusahan atau pun penderitaan. Hidup kami makmur, serba berkecukupan. Kami merasa senang dan bahagia. Oleh sebab itu, kami tak perlu agamamu. Juga tidak perlu dengan segala ajaranmu. Kami pun punya Tuhan yang bernama Al-Latta, yang memiliki kekuatan melebihi berhala Hubal di Ka’bah. Buktinya dia telah memberikan kesenangan di sini dengan segala kemewahan dan kekayaan yang kami miliki.”

Yang lainnya lagi berkata, “Jauh berbeda dengan ajaran yang kalian tawarkan. Penuh siksaan dan daerah yang selalu penuh dengan derita. Jelas kami menolak ajaran kalian. Bila tidak, akan menimbulkan malapetaka bagi penduduk kami di sini.”
Mendengar jawaban mereka, Rasulullah SAW berkata, “Jika memang demikian, kami pun tidak memaksa. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri.”
Mereka berkata lagi, “Pergilah kalian cepat-cepat dari sini! Sebelum kalian menyebarkan bencana besar bagi penduduk di sini. Kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja. Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini kepada pemimpin Bani Quraisy di Makkah sebagai mitra kami. Kami tidak ingin berkhianat kepada mereka.”

Maka Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah para pemimpin Bani Tsaqif itu. Akan tetapi, para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja. Di luar rumah para pemimpin tersebut, Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha’if yang tidak ramah. Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu aba-aba dari seseorang, sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah SAW sambil pergi dari tempat itu. Mereka berdua terluka akibat lemparan-lemparan itu.

Setelah agak jauh dari kota Tha’if, Rasulullah berteduh dekat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka. Ketika sudah tenang, Rasulullah SAW mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat mengharukan:
“Allahumma ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Kauserahkan diriku? Kepada orang jauh yang berwajah muram kepadaku? atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Aku tidak peduli selama Engkau tidak murka kepadaku. Sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Janganlah Engkau timpakan kemurkaanMu kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya kecuali dengan Engkau.”

Kemudian Allah SWT mengutus Jibril untuk menghampiri beliau. Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi di antara kamu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”

Setelah mendapatkan hinaan dan lemparan batu yang demikian menyakitkan, kemudian mendapat tawaran luar biasa dari Jibril, apa jawaban Rasulullah SAW? Ia malah terkejut dengan tawaran tersebut, lalu menjawab Jibril, “Walaupun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, tidak mengapa. Aku berharap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.”


Demikianlah kelembutan hati Rasulullah SAW. Dia manusia, tapi tak seperti manusia. Begitu mulianya pengorbanan beliau. Walaupun halangan menimpa, namun hatinya tetap tabah, penuh kelembutan dan kasih sayang. Betapa kejinya orang-orang yang menghina manusia mulia ini. Betapa jahatnya orang-orang yang menyakiti beliau. Termasuk kita..
Begitu mudahnya kita menyakiti perasaan beliau dengan meninggalkan ajarannya. Tidak tahukah kita, bahwa setiap hari, amal-amal kita akan dihadapkan kepada Rasulullah SAW? Jika amal itu baik, maka beliau pun bergembira dan bersyukur. Jika amal itu buruk, maka beliau dengan kelembutannya memohonkan ampunan kepada Allah bagi kita. Adakah pemimpin lain yang selalu memikirkan umatnya dari sejak di dunia hingga di kehidupan berikutnya selain Rasulullah SAW?

Ya Allah, ampuni kami.. Ya Rasulullah, maafkan kami…



Referensi:
http://alkisah.web.id/2010/03/kelembutan-sang-rasul.html
http://cara-muhammad.com/